Jumat, 23 Oktober 2015

A hole

Some said it's just a game
Else said it's ok, don't mind

But it's not just about a game
I can't change the feeling of
Trying hard to change your fate

The feeling of
Not trying harder
Higher than your limit

I know I have my limit
And that is fate, but

The feeling is there

For a short moment
I came to despise the court
Despise the game
Despise my fate
Despise myself

God help me

Sabtu, 17 Oktober 2015

Terukur

Seseorang pernah bilang

Aku pernah memiliki semuanya, tapi aku tak bahagia.
Tapi di saat aku memiliki sedikit saja, aku lebih bahagia.
Bahagia itu tidak ditentukan yang kau miliki

Untuk hal itu, ada seseorang yang bilang

Bahagia ditentukan pikiranmu sendiri.
Jika bahagia ditentukan materi, tentulah orang kaya selalu bahagia, nyatanya tidak.
Jika bahagia ditentukan usia, orang di sekitar dan lainnya hal-hal remeh, pastilah semua orang bahagia, nyatanya tidak.
Di saat kau merasa cukup, maka kau bahagia.
Senantiasa bersyukur, bahagialah engkau.


Untuk saat ini, aku belum mencapainya

Kamis, 15 Oktober 2015

Tak Terukur

Malangnya si kucing tua itu
Tiap hari hatinya teriris
Tiap malam jantungnya tersedak
Dan siapa yang dapat memperbaiki?
Adakah penawarnya?

Belum, mungkin tidak
Salahmu sendiri masuk ke dalamnya

Tentu Saja (I)

Rasa kehilangan ini terus membuntutiku. Menggerogoti kulitku seperti gigitan nyamuk, menusuk-nusuk kepalaku. Mengherankan, aku tak pernah merasa kehilangan apa pun seumur hidupku. Hidupku sudah terasa lengkap, tapi masih saja tersisa nelangsa itu. Entah bagaimana akhirnya kusadari, rasa kehilangan itu mengarah kepada sesorang. Siapa dia? Bagaimana wajahnya?Apa yang dia lakukan sekarang? Mengapa dia terus membuat rasa ini muncul?

Maka kucoba untuk mencarinya. Bahkan setelah kulepaskan segala bentuk wujud dan ragaku, dia masih belum dapat kutemukan. "Aku harus bertanya pada Malam", pikirku. Malam pasti menyaksikan saat dia pergi tidur, Malam pasti tahu seperti apa rupanya. Malam pun datang dan aku pun bertanya, "Hei Malam, yang menaungi istirahatnya manusia, seperti apakah wajahnya? Wajah yang kucari itu?"

Namun malam bergeming, ia lewat begitu saja, tak mengacuhkanku. Malam telah lewat 40 kali dan aku terus bertanya padanya setiap kali ia lewat. Pertanyaan yang sama terus kuulang. Omong-omong tentang Malam, dia tidak suka keributan. Seperti orang tua, ia lebih suka ketenangan, karena itu ia merasa terganggu setiap ada ribut-ribut di saat dia datang.

Kuhitung 99 kali ia lewat, tak pernah sekalipun ia mengacuhkanku. Pada malam ke-100, acuh tak acuh Sang Malam bertanya, "mengapa kau terus menungguku, apa kau tak lelah? Bahkan aku pun lelah terus mengacuhkanmu."

Maka kujawab, "karena aku harus tau, karena aku ingin tau."

"Tentu saja itu harus kau lihat sendiri." Jawab Sang Malam.

Malam pun pergi begitu saja. Kuputuskan untuk bertanya pada Siang....


Sabtu, 10 Oktober 2015

Would she? Could she?

Allegra: "Doctor Fell, do you believe a man could become so obsessed with a woman from a single encounter?"

Lecter: "Could he daily foel a stab of hunger fοr her and find nourishment in the very sight of her?
I think so. But would she see through the bars of his plight and ache for him?"



Hannibal (2001)